INFO-TARGET.COM | BOGOR – Ketegangan di Desa Gunungsari, Kecamatan Citereup, Kabupaten Bogor semakin memanas setelah seorang warga pendatang, Erna Harahap, bersama suaminya, Ahmad Syaerozi, melaporkan permasalahan serius yang mereka hadapi terkait intimidasi dan arogansi yang diduga dilakukan oleh Ketua RT 001/006, serta beberapa pihak lainnya di lingkungan setempat. Bogor, 08/04/2025.
Konflik ini bermula pada 22 Februari 2025, ketika pasangan suami istri tersebut memutuskan untuk mengonsultasikan masalah mereka ke Kantor Hukum BSR & Rekan, yang beralamat di Cibinong. Mereka melaporkan tindakan intimidasi oleh beberapa warga, termasuk Ketua RT 001/006 yang terlibat dalam persoalan sepele – pembakaran sampah di halaman rumah mereka.
Menurut Erna, mereka hanya berniat membersihkan lahan yang tertutupi sampah plastik dan rumput liar, yang ia bakar sedikit demi sedikit. Namun, pada suatu hari, ia dilarang oleh tetangganya, yaitu Euis, yang kemudian diikuti dengan peringatan dari keluarga Euis dan seorang lelaki bernama Ari, yang menuduh Erna “sombong” karena baru tinggal di situ dan memperingatkan bahwa dia tidak boleh “macam-macam” di lingkungan tersebut.
Situasi ini memanas ketika salah satu anggota keluarga Euis, Ari, menanggapi dengan ucapan yang lebih keras dan mendiskriminasi, bahkan menyebutkan bahwa Erna adalah seorang “pendatang” yang tidak bisa berbuat sesuka hati di lingkungan tersebut. Ari juga mengancam, mengatakan bahwa ia tidak pernah kalah dengan orang pendatang di RT tersebut.
Ketegangan terus berkembang, dan pada 19 Februari 2025, sebuah pertemuan digelar antara pihak-pihak terkait untuk mencari solusi, namun hasilnya justru menciptakan ketidakjelasan. Erna dan suaminya menandatangani sebuah surat perjanjian yang kemudian ternyata berisi klausul yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Bahkan, surat perjanjian tersebut dipegang oleh Ketua RT, tanpa ada salinan untuk Erna dan suaminya.
Pada 14 Maret 2025, Kepala Desa Gunungsari, setelah menerima keluhan dari Erna, mengundang mereka ke Balai Desa untuk mendengarkan secara langsung penjelasan dari kedua belah pihak. Hasil pertemuan ini pun menjanjikan penyelesaian, namun hingga saat ini, belum ada tindak lanjut yang memadai dari pihak terkait.
Sementara itu, pihak media yang turut mengikuti peristiwa ini terus berusaha mendapatkan klarifikasi dari Kepala Desa Gunungsari. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum ada balasan atau konfirmasi terkait rencana pertemuan lanjutan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
Dengan segala ketegangan yang ada, Erna dan suaminya berharap agar ada penyelesaian yang adil dan jelas dari pihak berwenang. Mereka pun meminta agar segala bentuk intimidasi dan arogansi yang mereka alami segera dihentikan.
Konflik ini menjadi sorotan publik, mengingat potensi perpecahan yang dapat timbul dari perbedaan perlakuan terhadap warga pendatang di lingkungan yang seharusnya hidup rukun. Akankah Kepala Desa Gunungsari segera mengambil tindakan tegas untuk menyelesaikan permasalahan ini? Kita tunggu kabar selanjutnya.
(Red. Sufrika Agus)